Kebanyakan dari kita sebagai masyarakat telah salah mengartikan atau men-judge bagaimana sebenarnya seorang “Gay”, dan selalu berfikiran negatif tentang “mereka”. Disini aku mau share sedikit tentang bagimana sich sebenarnya seorang “Gay” itu ??? Dari baca2 e-mailyang masuk aku kutip mail tersebut dan mau aku share-kan itu ke para pembaca. Trimakasih juga aku ucapin untuk penulis yang juga telah berbagi hasil penelitiannya, sehingga dapat menjadikan ilmu juga untuk para pembaca. silakan di simak yach supaya kita tau nantinya dan gak selalu berfikiran negatif terhadap seorang “Gay”  :-)

Ketika Dede Oetomo masuk sekolah.

Saat homoseksual kembali diributkan karena seorang pembunuh bernama Ryan, Dede Oetomo berangkat ke sekolah. Bukan untuk belajar membaca, tapi untuk berdiskusi dengan para guru dan orang tua murid di Mandala. Tempat yang mencakup TK, SD dan SMP ini adalah sebuah sekolah kecil di Surabaya. Letaknya-pun tidak di jalan besar seperti kebanyakan sekolah-sekolah lainnya. Tapi, di kampung, dengan beberapa perempuan tua yang suka leyeh-leyeh di pelataran. Sekolah ini memang tidak mencoba untuk menjadi sekolah mewah. Sebagai penasehat sekolah, saya sendiri sudah bosan dengan penampilan dan jubah mahal, tapi isi melompong.

Dengan isi manusia seperti Dede Oetomo inilah, saya dapat berbangga. Walau niat ini tadinya ditentang. Salah satu orang tua sempat protes: “Bukankah Dede itu gay?”. Tanpa ingin tahu apa yang akan Dede utarakan, tanpa pernah bertemu dengan Dede, orang ini sudah menolak. Alasannya, kekuatiran bahwa ke-gay-an Dede dapat ditularkan. Dia memutuskan untuk tidak hadir ketika Dede mampir di sekolah ini pada hari Minggu, 27 Juli untuk berdiskusi tentang “Pengasuhan Anak dan Kenyataan Sosial Mengenai Seksualitas”. Mengapa Dede menghubungkan pengasuhan anak dengan kenyataan seksualitas? Karena seksualitas adalah aspek inti dari manusia, yang mencakup hal-hal yang luas, antara lain identitas, orientasi seksual, kemesraan, dan reproduksi. Hal-hal yang menyangkut seksualitas tak mungkin ditutupi.Namun, kata Dede, yang sering terjadi adalah penabuan diskusi seksualitas sehingga mayoritas anak-anak dan remaja mendapat informasi tentang seksualitas dari teman, film erotik, buku atau pacar. Dari orang tua tidak ada, alias nol persen. Padahal studi tentang kawula muda di 4 kota besar di Indonesia mengungkap bahwa hubungan seksual pertama dilakukan cukup dini -16% dari responden melakukan hubungan seksual pertama pada usia 13–15 tahun, 44% pada usia 16–18 tahun, 32% pada usia 19–21 tahun, dan 8% pada usia 22–24 tahun. Dari para remaja ini, 66% mengatakan bahwa teman mereka pernah hamil. Anehnya, mereka yang telah aktif secara seksual terkadang tidak punya pengetahuan yang memadai tentang seks. Hanya 52% mempunyai gambaran yang benar tentang bagaimana kehamilan terjadi. Bahkan beberapa remaja yang hamil di luar nikah sempat heran mengapa mereka dapat hamil padahal belum nikah. Di benak mereka, hanya pernikahan resmi saja yang dapat menyebabkan kehamilan. Jadi, mereka kawin berkali-kali tanpa takut hamil. Menurut Dede, orang tua seharusnya terbuka tentang seksualitas, termasuk keanekaragaman seks, sehingga bila anak bertanya mereka tidak merasa diremehkan atau dibohongi. Sambung Dede: “Ide-ide orang muda tentang seksualitas dipengaruhi tidak saja oleh apa yang dikatakan, melainkan juga oleh apa yang tidak dikatakan, bagaimana mengatakannya, dan sikap tak terucap yang diungkapkan dengan sadar atau tidak”. Bila orang tua terburu-buru membungkam dan bahkan menyemprot anak yang bertanya, seksualitas menjadi hal yang harus disembunyikan bagi si anak. Akhirnya, mereka lebih suka main petak umpet, dan kecelakaan lebih mudah terjadi.
Tentu saja ide “keterbukaan” ini menjadi bahan perbincangan antara Dede dan beberapa orang tua murid. Salah satunya menanyakan tentang bocah lelaki yang suka merias diri, dan kemudian menjadi waria. Bagi Dede, semua anak mempunyai keistimewaan, siapapun anak tersebut. Apa salahnya menjadi waria yang sukses? Boy George adalah salah satu contoh dari sekian banyak.Memang masih ada kecenderungan untuk memojokkan golongan minoritas.Karena itulah, orientasi seksual Ryan, pembunuh yang memutilasikorbannya, menjadi pembahasan seru. Bahkan, beberapa orientasi seksual terkadang dianggap seperti penyakit yang bisa menular.
Hari itu, tentu saja tidak ada yang tertular ke-gay-an Dede. Keponakan saya yang masih duduk di bangku SMP dan telah saya ajak beberapa kali untuk bertemu Dede dan ke kantor GAYa Nusantara-pun tidak pernah ditulari para LGBT yang amat ramah dengannya.Yang didapat oleh keponakan saya dari perkenalan dengan Dede Oetomo dan para LGBT ini justru pelajaran yang sangat berharga: bagaimana mereka yang masih sering dipojokkan oleh masyarakat dapat menerima diri mereka. Bagaimana orang-orang ini dapat bangga akan diri mereka yang sempat ditolak.

Dari sini, keponakan saya dapat lebih percaya diri, dan tidak memandang perbedaan dirinya dengan teman sebayanya sebagai kelainan, kekurangan, ataupun kecacatan. Karena menolak golongan minoritas adalah ketidak mampuan untuk menerima sesuatu yang dianggap lain dari kebanyakan, termasuk menghargai perbedaan diri kita sendiri. Padahal setiap orang selalu mempunyai rasa berbeda bahkan kurang dari yang lain dalam suatu masa. Membuka diri akan perbedaan seseorang adalah salah satu hal yang dapat dipelajari dari bincang-bincang dengan Dede Oetomo. Lalu, bagi orang-orang yang menolak Dede dan tidak datang ke diskusi ini? Rasanya, salah satu kesempatan emas telah dilewatkan oleh mereka-mereka ini. Karena dengan menolak Dede, mereka tanpa sadar juga telah menolak salah satu sisi dalam diri mereka.


(Penulis: Dr. Soe Tjen Marching, penasihat sekolah Mandala di Surabaya.)

3 Tanggapan ke ““Gay” Bukan Untuk Dijauhi”

  1. Iwan berkata

    ingin menanyakan..saya punya rekan kerja yang merasa dirinya gay..
    tetapi dia ingin berubah….

    untuk pengalaman pacaran sesama jenis belum pernah tetapi ketertarikan sesama jenis tinggi…

    saya menanyakan apakah dari kecil ketika bangun tidur pernah ereksi ternyata sama sekali belum pernah…pernah sekali saya ajak untuk nonton film bf tetapi dia tidak terangsang…kira2 bagaimana cara untuk membantunya…

    thx

  2. ci_ovy berkata

    Makasih buat commentnya.

    Waduh soal pertanyaan yang anda tanyakan, maaf karena saya bukan pakar kesahatan, jadi saya kurang tau untuk penyembuhan masalah itu. Saya bisa posting itu di blog saya cuma ambil dari artikel yang terkirim di email saya dan artikel itu dari beliau Dr. Soe Tjen Marching, penasihat sekolah Mandala di Surabaya. Maaf sekali saya tidak bisa bantu.

  3. paduka21 berkata

    Hmm.. sory br s4 bls…
    Sama jg ya, Ma!?

    Waaa…
    Q kira anda pakar seksologi, Tiwas arp konsultasi…
    Whahaha…

Tinggalkan Balasan